
Perjalanan menuju Pasar Terapung Lok Baintan, Martapura, Kalimantan Selatan, via sungai Martapura.
"ketika visual begitu sulit menceritakan ceritaku"

Perjalanan menuju Pasar Terapung Lok Baintan, Martapura, Kalimantan Selatan, via sungai Martapura.
Sore ini,
langit terindah membentang.
Mungkin begitu bagiku.
Layaknya sedang tersesat,
aku tak lebih seperti dedaunan dan bunga;
takjub serta menengadahkan doa pada matahari yang bersinar cerah.
Senyumnya terpancar.
Hangat membelai indera perabaku.
Sama seperti matahari yang tengah menerangi kanvasku saat sedang menarik garis setiap lekuk tubuhnya.
Saat itu, aku takut…
Aku takut dikejar waktu.
Aku takut ketika gelap memburu.
***
Sore ini,
Takdir berkata lain.
Langit berganti kisah.
Kuarahkan ujung kuasku ke segala penjuru.
Begitupun tangisnya,
pecah.
Ia berusaha menggoncang alam bawah sadarku.
Terlambat,
Kanvas ini terlanjur hitam.
Tepat saat hujan turun dengan tiba-tiba.
***
TUHAN TAK TIDUR ~ “Iya. Namun sore ini ia menumpahkan kopinya.”
Masihkah kita memeluk ibu? Seberapa sering kita memeluk ibu? Ingatkah kapan terakhir kali memeluk ibu? Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin terlupakan atau bahkan diacuhkan dalam kehidupan keseharian kita.
Memeluk adalah sebuah tindakan sederhana yang memperlihatkan kasih sayang. Pelukan merupakan bahasa tubuh yang maknanya jauh melebihi kata-kata dan komunikasi nonverbal lainnya. Tapi mengapa kita lupa memeluk ibu dan mengucapkan terima kasih untuk semua yang telah ia lakukan?
Inikah cinta,
Merambat di sesak udara,
Tenggelam pelan menuju samudera.
Melayakkan hati di bawah jiwa.
Sesakit rindu yang telah lama,
Enggan mengetuk pintu rumahmu,
Merayapnya tubuh rapuh,
di bawah langit pada malam kesepuluh.
Kelak cintamu serupa bara,
Yang menghangatkan tubuh hingga badai kita reda.
Pernah aku mendengar desir angin menerpa cemara.
Suara yang dibuatnya merdu hingga terlupa lelahku.
Pernah aku berada di tengah riuh, memandang lalu lalang manusia.
Semuanya senang merasa sendu dalam keramaian;
dan aku enggan menutup mata.
Masa depan,
kotak hitam berbalut pita hias,
bukan untuk kita yang enggan menghirup syak wasangka;
atau menghembus kejutan jauh-jauh.
Bahwasanya inginlah terlihat sempurna,
meskipun tahu;
sempurna itu milik-Nya, dan kita tak perlu lagi pengakuan.
Sepasang tangan,
Memohon kepada empunya raga,
“Tengadahkan aku menghadap wajahmu…”
“Dan…”
“…Biarkan bibirmu dengan sendirinya merangkai kata-kata terindah untuk-Nya”
“Kelak, keajaiban itu akan datang,
Meski tak lagi wujudnya sempurna…”
“Karena, aku (tangan ini) senantiasa tahu,
Doamu hanya menginginkan kamu menjadi yang ia inginkan…”
“Cukup…”
“Cukup aku yang menyentuh wajahmu dan menyampaikan pada-Nya”
Pada salah satu kotak di bianglala, meski buram jendelanya tetap saja tampak jelas wajahmu yang terlihat bahagia.
Dari bawah sini jelas terbaca.
Kau memangku kedamaian, dan di saat bersamaan, kau belai mesra pemilik surgamu.
Dari bawah sini kutemukan yang tak aku punya.
Yaitu,
Dirimu…
Kau paksa sepi,
Keluar dari tempatnya bersembunyi.
Dan, hanya…
Ketika dua orang yang berbeda menawarkan rasa sakit yang sama,
Itu kau sebut apa?
Jika merasa lebih benar dari mereka
yang menganggap dirinya benar,
salahkah Tuhanmu?
Jika merasa lebih sempurna dari mereka
yang menganggap dirinya sempurna,
lemahkah Tuhanmu?
Pada akhirnya, kalian tak ada bedanya.
Tengah malamnya berakhir
Di tengah manusia yang tak tahu apa-apa
Tengah malamnya berganti hari
Diterjang kata-kata entah dari siapa
Hingga semua berakhir
Ada “maaf” yang tak pernah terucap
Yang seharusnya miliknya
****
Malam ini, kembali aku merayakannya sendiri
Ulang tahun yang entah berapa lama, hingga masanya kadaluarsa,
masih saja menunggu ucap, entah dari siapa
*****
Banjarmasin, 05 Mei 2012
Selamat ulang tahun
Selamat kembali bertanya pada Tuhan,
adakah waktu tambahan untuk menanti ucap darinya.